Suamiku Seorang Mayat

Suamiku Seorang Mayat

Mataku lebam karena semalaman menangis. Aku masih tidak bisa percaya bahwa seseorang yang sangat aku cintai meninggal dunia.

‘Aldo’ itulah namanya. Kami bertemu di kampus dulu. Setelah 3 bulan berteman akhirnya kami jadian. Kami benar-benar saling mencintai. Dan setelah berpacaran selama 2 tahun, kami berdua memutuskan untuk bertunangan. Keluarga dari kedua belah pihak sudah menyetujui hubungan kami.

***

Pesta pertunanganpun dilaksanakan. Sebuah pesta yang sangat meriah. Hampir seluruh keluarga dan teman-teman dekat hadir.

Namun, setelah 1 tahun kami bertunangan dan hendak memutuskan untuk menikah, tiba-tiba Aldo mengalami kecelakaan parah. Dia meninggal di lokasi kejadian. Aku sangat terpukul atas semua itu.

“Aku benar2 menyayangimu do, kenapa kamu ninggalin aku di 3 hari menjelang pesta pernikahan kita?”ucapku sambil menangis.

“Aku benar2 gak mau kehilangan kamu. Takkan ada yang akan menggantikanmu dalam hatiku. 1 janjiku padamu, aku akan memperjuangkan cinta kita. Walupun itu berarti aku harus melakukan hal gila” kataku tegas sambil memandangi foto Aldo yang ada di mejaku.

***

Tanggal 10 Januari 2009, mungkin kini aku sudah benar-benar gila.

Aku memutuskan untuk tetap melaksanakan pernikahanku dengan Aldo. Banyak pihak yang menentang keputusanku itu.

“Apa???? Kamu sudah benar-benar gila rupanya Neina!!! Aldo itu sudah meninggal!!!” jawab Papaku lantang ketika mendengar keinginanku.

“Aku tidak perduli pah. Aku cinta Aldo. Sekarang dan selamanya. Jika aku bertunangan dengan dia, maka akupun akan menikah dengan dia!!” Ujarku.

“Tidaaaaaak!!!!” kata papaku.

Selama hampir 2 minggu, aku berusaha keras untuk meminta persetujuan dari keluargaku.

Hingga akhirnya keluargaku memberikan restunya untuk itu.

“Mama dan papa sudah tidak tau lagi bagaimana menghadapimu. Kamu benar-benar keras kepala. Baiklah jika itu memang keinginanmu!” Ujar Mamaku.

Hal yang sama aku lakukan dengan keluarga Aldo. Tak jauh berbeda dengan keluargaku. Awalnya mereka menganggap aku sudah gila. Namun, akhirnya restu aku dapatkan. Sayangnya semuanya tak berhenti sampai disitu. Aku masih harus mendapatkan ijin dari pemerintahan di negaraku. Mereka menolak keinginanku itu, Hampir 1 bulan dan aku tidak menyerah untuk itu. Sampai akhirnya, pemerintah mengatakan kepadaku bahwa aku harus meminta izin pernikahan itu kepada Presiden Negaraku.

***

“Do, aku bingung harus gimana. Tolong aku. Jangankan untuk meminta persetujuan dari Pak Presiden. Untuk bertemu pun itu sangat sulit.”kataku sambil memandang foto Aldo di kamar.

Tapi aku telah memantapkan hati untuk itu. Dan tidak akan ada yang bisa mengubah keputusanku.

***

Hari demi hari berlalu, hampir sepuluh surat yang aku kirimkan untuk pak presiden dan tak ada satupun mendapatkan balasan. Sampai akhirnya aku nekat pergi ke Ibukota untuk menemui langsung Pak Presiden. Namun, semuanya tak semudah perkiraan.

Baru 20 Maret 2009 di gedung Kepresidenan, aku berhasil melontarkan maksudku di depan Pak Presiden secara langsung walaupun awalnya aku harus berurusan dengan security yang ada.

Walaupun sulit sekali meyakinkannya. Banyak yang menganggap aku sudah gila. Namun akhirnya Pak Presiden memberikan persetujuannya.

***

Pagi harinya aku langsung pergi ke stasiun untuk pulang ke rumahku. Aku benar-benar merasa bahagia saat itu.

“Aldo tunggu aku, aku pulang dan pesta pernikahan kita akan segera dilaksanakan” gumamku dalam hati.

Namun sayang, takdir berbicara lain, kereta yang aku naiki mengalami kecelakaan. Hampir 300 penumpang tewas. Akibat kecelakaan itu, aku kehilangan kedua kakiku. 3 bulan aku menjalani pengobatan di rumah sakit. Kini aku bukan manusia yang sempurna, aku cacat. Namun semua itu tak mengurungkan niatku untuk tetap melaksanakan pesta pernikahanku dengan Aldo.

***

Tepat di tanggal 3 Juli 2009, pernikahankupun diselenggarakan. Hari itu tepat di hari ulang tahun Aldo.

Pernikahankupun tak seperti pernikahan orang-orang pada umumnya. Aku melaksanakan pesta pernikahan di makam Aldo. Hanya keluarga, kerabat dan teman-teman dekat yang aku undang.

Tangis haru menghiasi pesta pernikahanku. Mulai dari keluargaku, keluarga Aldo hingga teman-teman terdekatku dan Aldo. Bahkan akupun tak dapat membendung air mata yang jatuh. Air mata kebahagiaan karena akhirnya aku dapat menikah dengan seseorang yang sangat aku cintai sekaligus air mata kesedihan karena aku tak dapat memiliki Aldo sepenuhnya.

“Sayangku dengarkanlah aku. Aku mencintaimu, takkan ada yang bisa memisahkan cinta kita meskipun kau telah tiada. Ikatan cinta yang telah kita bina takkan terhapuskan. Inilah bukti cintaku padamu sayang. Tunggu aku disana. Aku mencintaimu sayang … dulu… sekarang… dan .. selamanya…” Bisikku lirih ketika berada di makam Aldo.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s