Sosok yang Telat Mati Datang Kembali

Sosok yang Telat Mati Datang Kembali

Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari pada waktu itu. saat mataku masih terasa berat karena mengantuk..

Untuk menghilangkan rasa kantukku, aku menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku dengan air..

Brrrr… dingin tapi segar…

Kulihat langit di waktu itu,, terlihat begitu banyak bintang yang bertaburan di langit. Ini adalah hari pertama puasa.

Masih dapat ku ingat dengan jelas pada Bulan Ramadhan tahun-tahun yang lalu, ‘Pak Ali’ begitu kami memanggilnya, selalu berkeliling kampung untuk membangunkan warga sahur..

Namun, di penghujung bulan ramadhan, pak ali pengurus masjid di desaku itu tiba-tiba jatuh sakit.Meski demikian ia tetap berkeliling kampung untuk membangunkan warga. Hingga akhirnya Pak Ali meninggal dunia.

Itulah terakhir kali aku mendengar suaranya “SAHUR … SAHUR”.

***

Pak Ali adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar 60 tahun. Ia mengabdikan dirinya untuk menjadi pengurus masjid di kampungku.

Ia tidak pernah meminta imbalan untuk setiap pekerjaan yang ia lakukan. Begitu lembut tutur katanya, begitu sopan. Halus tapi berwibawa. Sehingga semua orang di kampungku menyukainya. Sayangnya, istrinya meninggalkannya dengan membawa anak semata wayangnya. Hingga akhirnya Pak Ali hidup sendirian.

Namun, ia tidak pernah mengeluh akan hal itu. Ia selalu tersenyum. Tak pernah ku lihat ia menangis dalam menjalani hidup.

***

Suara gemericik air menyadarkanku dari lamunan. Uwh,,, udara pagi ini benar2 dingin..Akhirnya aku keluar rumah untuk membeli makanan sebagai hidangan sahurku. Di luar amat sepi.

Maklum, kampungku jauh dari kota. Di sana sini masih banyak pepohonan yang tumbuh.

Lampu jalanpun hanya sedikit.

Tiba-tiba aku teringat Pak Ali. Biasanya saat aku membeli lauk untuk sahur aku pasti bertemu dengannya.

Masih terpampang jelas sosok Pak Ali. Memakai baju koko berwarna putih, dengan sarung kotak-kotak. Menuntun sepedanya yang sudah agak usang, sambil menenteng rantang sebagai bekal sahurnya di jalan.

Suaranya yang lembut tapi tegas dan berwibawa meneriakkan “Bangun,,, Bangun,,, Sahur….!!!”.

Tapi kini kampungku begitu sepi. Tak ada suara orang yang meneriakkan sahur lagi. Bahkan masjid di kampungkupun terlihat gelap.

***

Saat aku berjalan, sayup2 ku dengar ada yang meneriakkan sahur sahur…

Aku benar- benar bingung saat itu. Siapa yang kira2 meneriakkan itu… Mungkinkah????

“TIDAK…!!” teriakku dalam hati. itu tidak mungkin. pasti dari kampung sebelah. tapi mana mungkin???

aku mencoba menenangkan diri. Ku percepat langkah kakiku menuju warung makan di ujung kampung.

Tapi semakin lama semakin jelas suara itu terdengar. Dan saat aku berada di depan masjid tepatnya, suara itu benar- benar sangat jelas.

Dan dapat ku kenali, suara itu adalah suara Pak Ali.

“Ya Allah tak mungkin,,, “bisikku.

Saat aku hendak melanjutkan langkah kakiku..kini terdengar sura roda..roda sepeda. Di ujung jalan, aku melihat seseorang sedang Menitih sepedanya sambil membawa rantang.

Tiba2 dapat ku rasakan bulu kudukku berdiri..udara disekelilingku terasa sangat dingin..

“Pak Ali !!!” teriakku terbata bata karna rasa takut yang luar biasa.

Akhirnya aku berlari pulang ke rumah.

Sejak saat itu, ketika waktu sahur tiba aku tak berani lagi keluar untuk membeli makanan.

Walupun begitu, dari dalam rumah masih jelas terdengar seruan Pak Ali “Sahur Sahur”.

***

Hingga hari ke8 puasa, ternyata bukan cuma aku saja yang mendengar dan melihat sosok Pak Ali yang membangunkan sahur,,hampir semua warga kampung juga.

Sampai suatu malam, tepatnya hari ke 10 bulan Ramadhan,warga kampung sepakat untuk memastikan sosok itu.

Pak Jamal ketua RT di kampungku,tepat pukul 03.15 berdiri di depan masjid.Dia menunggu di sana. Sampai akhirnya mulai terdengar seruan “SAHUR…SAHUR”

Pak Jamal melihat sosok laki-laki di ujung jalan itu. Ia mengampirinya walau ada rasa takut di benaknya.

Dan ternyata setelah di dekati sosok yang selama ini membagunkan warga kampung sahur itu benar2 Pak Ali.

Pak Jamal berdiri tepat di depan sosok Pak Ali.Dapat ia lihat dengan jelas wajah pucat Pak Ali, dengan sepeda tua yang ia tuntun.

Pak jamal dan sosok Pak Ali pun bertatap muka.

“Pak…sekarang sudah ada yang menggantikanmu, pulanglah pak, tempatmu bukan disini” ucap Pak Jamal agak terbata-bata.

Tiba2 setelah mendengar kata2 Pak Jamal, sosok Pak Ali menghilang. Sepeda dan rantang makanan itupun terjatuh.

HILANG… sosok Pak Ali menghilang… setelah kejadian itu, tak pernah terdengar lagi suara Pak Ali. sekarang yang terdengar adalah seruan Sahur yang berasal dari Masjid.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s