Jalan Kematian

JALAN KEMATIAN

Malam yang sangat sepi. Angin malam menambah kengerian malam itu. Suara-suara yang berasal dari burung hantu membuat setiap orang yang melewati jalan itu menjadi merinding karenanya. Sebuah jalan yang dikenal orang-orang di daerah itu sebagai jalan kematian. Sering terjadi kecelakaan di jalan itu. Bahkan tidak jarang ada yang meninggal. Belum lama ini telah terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pengendara motor. Kematiannya sangat tragis. Dengan kepala yang hampir putus bahkan matanya lepas yang ditemukan tidak jauh dari tempat tubuhnya terkapar. * * *

Malam di bulan Desember di daerah Willston memang di kenal sebagai malam yang paling dingin diantara malam-malam lain. Memang nasib baik sedang tidak memihakku hari ini. Hanya kerena aku lupa membawa buku PR-ku,aku di hukum membersihkan gudang sekolah dan kamar mandi yang baunya benar-benar sangat tidak enak tentunya. Karena hukuman itulah aku pulang hampir jam 7 malam. “Huh . . . benar-benar menyebalkan.Masa’ hanya karena lupa membawa buku PR aja sanksinya kayak gini sih! Benar-benar guru yang gak punya rasa kasihan!”.gumamku saat di perjalanan pulang.tiba-tiba,,,, KRUK KRUK KRUK !! “Duh udah perut gak bisa di ajak kompromi lagi!Sial banget sih aku hari ini!”lanjutku. Tiba-tiba di tengah perjalanan aku mencium bau sesuatu. Bau yang benar-benar membuatku ingin muntah. “Uh. . . bau apaan sih ini. Kok gak enak banget. Kaya bau bangkai deh. Eh. . . bukan, tapi lebih cocok kalo di sebut bau amis. Ya bener . . . bau amis!Emm,,, tapi bau amis apa sih ini? Kok nyengat banget?” Kulihat daerah sekelilingku. Aku mulai sadar bahwa aku hanya berjalan sendirian. Tidak ada satu orangpun yang berada di jalan ini kecuali aku. “Jam berapa sih?Perasaan baru jam 7 tapi kok udah sepi banget sih?Kaya kota mati aja. Tidak ada tanda-tanda kehidupan deh. Eh. . . lalu aku ini apa kok gak ada tanda-tanda kehidupan. . Hihihihihi”kataku sambil tertawa kecil. “Emangnya setan? hehehehe. .” Setelah mengucapkan kata itu entah kenapa tiba-tiba saja bulu kudukku jadi berdiri. “ Tunggu dulu, bukankah ini Jalan Stirtend ? Jalan yang baru saja terjadi kecelakaan di sini ?” kataku sambil merinding. “Jangan-jangan yang dari tadi yang aku cium itu adalah bau darah bekas kecelakaan yang terjadi kemarin malam ?”ujarku lagi. Ketakutan mulai menghinggapi diriku. Tanpa pikir panjang aku langsung mempercepat langkah kakiku. Tapi tiba-tiba BRUK!!!!!! “ Awwwww. . . !!!! Aduh apaan sih ni ? bikin ku kepleset aja deh”. Kataku sambil kesakitan. Saat aku mulai berdiri, aku sadar aku telah menyentuh sesuatu tadi. Tanganku basah dengan bau amis yang amat sangat. Aku mencari tempat yang agak terang sedikit untuk melihat apa yang mengenai tanganku tadi. Saat aku tiba di dekat sebuah lampu di pinggir jalan itu, walaupun hanya dengan di terangi cahaya lampu yang berwarna kuning pucat, samar-samar ku lihat sesuatu di tanganku. Cairan berwarna merah. Dan kini aku tau bahwa cairan itu adalah darah. Awalnya aku berfikir bahwa itu adalah darahku sendiri. Tapi, saat ku periksa tanganku, tidak ada luka sama sekali. Lalu dari mana datangnya? Gumamku. Kali ini aku benar-benar merasa ketakutan. Namun, saat aku ingin segera beranjak pergi dari tempat itu tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh leherku dari belakang. Dingin. Tangan yang sangat dingin bahkan lebih dingin dari es batu. Tangan yang warnanya sangat pucat. Tangan yang berlumuran darah dengan kuku-kuku yang panjang dan berwarna merah. Jatungku berdetak sangat cepat. Ingin sekali aku berlari saat itu juga. Namun, kakiku tak bisa di gerakkan. Saat ku coba untuk melihat kearah belakangku, nafasku seakan berhenti. Tapi aku coba untuk memberanikan diriku. Semua keberanian aku kumpulkan dalam benakku. Dan saat ku lihat kearah belakang, wajah dengan penuh luka dan darah itu menatapku dengan tajam. “ JANGAN SENTUH DARAHKU!!!!!” teriaknya dengan penuh kemarahan. “ Aaaaaaaaaaaaaaaa . . . .!!!!!!!” Jantungku seakan berhenti, ketakutan menguasai diriku, badanku gemetar, Tanpa pikir panjang lagi aku berlari. Terus berlari hingga sampai di depan rumahku. Dengan segera aku masuk kemudian menuju kamarku dan langsung mengunci pintunya. Aku coba untuk menenangkan diriku. Aku coba untuk mengatur nafasku. Namun,bayangan wajah perempuan itu selalu terbayang-bayang dalam pikiranku. Wajah dengan penuh luka. Wajah dengan penuh kemarahan. Pandangan matanya yang sangat tajam membuatku takut.Aku benar-benar ketakutan. “Ibu . . . Ibu . . . Ibu dimana?” aku mencoba untuk mencari-cari keberadaan Ibuku. Namun tidak ada jawaban. Dimana ibuku ? aku bertanya-tanya dalam benakku. Dengan perasaan yang masih belum menentu, aku coba untuk keluar kamar. Aku panggil ibuku berkali-kali tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Tiba-tiba aku dengar suara telephone berbunyi. “Apa mungkin itu ibu ?” tanyaku. Setelah telephone aku angkat terdengar suara orang di seberang sana. “ Halo ?” katanya. “ Halo. . maaf ini siapa ya?”kataku. “Rani ?”tanyanya lagi. “Iya. Ini siapa ya? ” Lanjutku. “Ini ibu sayang.. tolong kamu jemput ibu sekarang ya. Sekalian jangan lupa membawa payung. Disini hujan turun sangat deras. Ibu berada di daerah Leyentown. Ibu tidak bisa pulang. Cepat ya nak. Ibu tunggu. “ Belum sempat aku berkata apa-apa,telephone-nya terputus. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku menjemput ibuku, itu berarti aku harus melewati jalan Stirtend lagi. Tapi jika aku tidak pergi menjemput ibuku itu berarti ibuku akan menginap di sana semalaman. Akhirnya aku putuskan untuk menjemput ibuku walaupun harus melewati jalan Stirtend. Aku coba untuk melupakan semua kejadian yang baru saja aku lalui di jalan Stirtend. Tetapi tidak bisa. Aku terus menerus dibayang-bayangi oleh ketakutan yang sudah menguasai diriku. “ Tidak ada apa-apa di sini. Tidak ada apa-apa di sini.” Gumamku. Aku mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri. Saat kakiku sudah melangkah dan berpijak di ujung Jalan Stirtend, jantungku mulai berdetak sangat cepat. Bulu kudukku berdiri. Ketakutan melekat sangat kuat dalam benakku. Aku mencoba untuk mempercepat langkah kakiku. Saat berada di sebuah pertigaan di Jalan Stirtend, samar-samar ku dengar suara rintihan yang sangat pelan. Awalnya aku berfikir, mungkin hanya suara angin saja. Namun, untuk kedua kalinya suara itu terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih keras. Sebuah suara yang membuat setiap orang turut ikut merasakan penderitaan yang di rasakan oleh seseorang yang mengeluarkan suara itu bila mendengarnya. “Siapa disitu?” tanyaku. Tetapi tidak ada jawaban. Aku coba menanyakan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya. “Siapa di situ? “ ulangku. Namun, tetap saja tidak ada jawaban. Setelah beberapa saat, suara itu tiba-tiba berhenti. Aku mulai beranjak dari tempat itu. Kemudian langkahku terhenti untuk kedua kalinya. Suara rintihan yang tadi aku dengar terdengar lagi. Namun, kali ini suara itu terdengar sangat keras. Suara rintihan yang sangat memilukan hati. Aku mulai berfikir siapapun yang mengeluarkan rintihan itu pasti dia mengalami siksaan yang sangat pedih. Tapi, dari mana asal suara itu. Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Kuperhatikan daerah sekelilingku. Tapi, tidak ada seorangpun. Semakin lama rintihan itu mulai berubah menjadi suara teriakan-teriakan kemarahan. Badanku gemetar. Keringat dingin membasahi diriku. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung berlari. Berusaha secepat mungkin pergi dari tempat itu. Aku berlari secepat yang aku bisa. Terus berlari sampai akhirnya aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Dan saat itu juga langkahku terhenti. Aku berusaha memberanikan diri untuk menengok kebelakang dan mencari siapa yang memanggilku tadi. Tapi, tidak ada seorangpun. Saat aku menengok kearah depan lagi, tiba-tiba di depanku telah berdiri sesosok wanita. Wanita yang ku kenal. “ Ibu !” ujarku. “ Iya ini ibu. Kamu kenapa sih? Kok sepertinya kamu ketakutan sekali? Ada apa?” Tanya Ibuku. Tanpa ragu-ragu ku peluk Ibuku. “ Ibu, kenapa ibu sudah ada di sini ? “ Bukankah tadi kata Ibu, Ibu terjebak hujan deras makanya menyuruhku untuk menjemput Ibu ?”tanyaku dengan perasaan yang sudah agak tenang. “ Sudahlah jangan kamu pikirkan, yang penting sekarang Ibu sudah sampai di sini.” Jawab Ibuku. Namun, aku merasa ada yang aneh dengan Ibuku. Tangannya sangat dingin. Wajahnya pucat pasi. Pandangannya dingin. Namun, aku berfikir mungkin gara-gara Ibu kehujanan. “ Ayo Ran kita pulang. Kamu pasti belum makan-kan?”Tanya Ibuku. “ Iya Bu. . “jawabku. Kami berjalan bersama ke rumah. Ibuku berjalan di depanku. Saat sampai di pertigaan Jalan Stirtend, aku mulai mencium bau busuk. Sangat menyengat. “ Ibu, apakah Ibu mencium bau yang tidak enak ini Bu ? “ tanyaku kepada Ibu. Tidak ada jawaban sama sekali dari Ibuku. “ Bu..” panggilku lagi. Baru setelah beberapa saat Ibuku menjawab pertanyaanku. “ Tidak.” Ujarnya dengan singkat. “ Masa’ sih Bu? “ tanyaku lagi. Namun, Ibuku tidak menjawabnya lagi. Aku mulai menghampiri Ibuku yang berjalan agak jauh di depanku. Semakin dekat dengan Ibuku, bau busuk itu semakin menyengat. Lalu aku panggil Ibuku. Tetapi Ibuku sama sekali tidak melihat kearahku. Sampai akhirnya karena bingung harus bagaimana lagi, aku menarik bahu Ibuku. Betapa terkejutnya aku saat kulihat wajah Ibuku berubah menjadi wajah yang sangat mengerikan. Penuh berlumuran darah dengan kedua bola mata yang sudah tidak ada. “ Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa . . . !!!!!!” Belum sempat aku berlari, sosok wanita yang aku kira adalah Ibuku itu mencekik leherku hingga aku kesulitan untuk bernafas. Badanku sudah sangat lemas. Semua yang aku lihat kini hanya berupa bayangan hitam kelabu. Aku berfikir mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Akan tetapi, sayup-sayup ku dengar suara seseorang memanggil-manggil namaku. “ Bangun nak. Bangun. Kamu kenapa Ran?” Tanya orang itu kepadaku. Samar-samar aku melihat seseorang. “ ibu “ ucapku lirih. Setelah itu semuanya sudah menjadi sangat gelap. * * *

Saat aku sadar, aku sudah berada di sebuah ruangan. Ruangan yang tidak aku kenal. “ Nak . . . kamu sudah sadar ? kamu tidak apa-apa kan nak ? “ tanya seseorang yang berada di sampingku. Saat itu, pandanganku masih belum jelas. Beberapa saat kemudian, aku mulai dapat melihat dengan jelas. Seseorang yang pertama kali aku lihat adalah Ibuku. Dengan penuh kelembutan, tangan Ibuku membelai-belai rambutku. Kali ini aku yakin dia benar-benar Ibuku. Aku menangis tersedu-sedu di pelukan ibuku. “ Ibu, ini dimana?” tanyaku kemudian. “ Ini di Rumah Sakit nak. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya ibuku. “ Aku baik-baik saja Bu .” jawabku. Kemudian aku mulai menceritakan semua kejadian yang aku alami saat itu kepada ibuku. Dan mulai saat itu juga, ibuku memutuskan untuk pindah rumah di daerah lain yang agak jauh dari Jalan Stirtend atau Jalan Kematian itu. Masih banyak rahasia-rahasia mengerikan yang masih tersimpan tentang Jalan Kematian itu. Bahkan aku masih sering mendengar di berita-berita bahwa ada beberapa orang lagi yang di temukan tewas di Jalan Stirtend tanpa sebab yang jelas. Meskipun sudah pindah rumah, namun, aku masih tetap mendengar suara rintihan yang sangat memilukan itu di belakang rumah baruku. Tapi, aku tidak mengatakannya kepada Ibuku. Sebenarnya makhluk apakah dia? * * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s